KESAKSIAN PEMANDI JENAZAH (1)

KESAKSIAN PEMANDI JENAZAH (1)

Saudaraku, kisah ini aku alami bersama kedua muridku di sebuah tempat pemandian jenazah. Seseorang menghubungiku dari rumah sakit di Jeddah pada hari Rabu malam, hampir mendekati jam sepuluh. Dia memintaku hadir ke rumah sakit untuk mengurus ayahnya yang meninggal dunia, agar dishalatkan pada pagi hari Kamis. Aku kemudian segera membawanya ke tempat pemandian. Di sampingnya banyak orang yang mengiringi. Mereka membawanya dan meletakkannya di atas papan pemandian. Setelah diletakkan di atas papan aku memasang tabir untuknya. Sebelum melepas pakaiannya, aku meminta kepada para hadirin untuk meninggalkan tempat pemandian. Auratnya tidak boleh terlihat, karena merupakan kehormatan mayat seperti kehormatannya ketika masih hidup. Tetapi mereka menolak dan salah seorang yang hadir berkata kepadaku, “Kami semua anaknya wahai syaikh.”

Aku benar-benar meyakini itu adalah anak-anaknya. Sementara si mayat badannya telentang di atas kayu pemandian. sekalipun dia sudah tua, tetapi tidak nampak tanda-tanda ketuaannya. Aku memandikannya dengan sangat mudah dan ringan. Anaknya yang tujuh orang membantuku untuk membaliknya ke kanan dan ke kiri, sehingga proses pemandiannya sangat mudah. Setelah selesai, aku memperhatikan banyak perbedaan. Mayat itu menjadi berbeda dan semua orang kaget. Wajahnya menjadi putih memancarkan cahaya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

Murid-muridku yang memperhatikannya juga dan kaget. Mereka tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya selain mengatakan lâ ilâha illallâh. Setelah dikafani cahaya ketuhanan itu tetap terlihat di wajahnya. Subhanallâh, cahaya ketuhanan yang keluar dari mayat ini seakan seperti pelita yang keluar darinya. Kami membawa mayat ini keluar agar diserahkan kepada keluarganya dan saat itu masih ada waktu yang cukup sebelum dibawa ke masjid.

Kami lalu membawanya ke masjid dan menshalatkannya seusai shalat subuh. Kami mendoakannya di pinggir kuburan dan akhirnya semua orang pergi untuk melaksanakan pekerjaannya masing-masing. Aku masih penasaran ingin mengetahui keadaan si mayat ini ketika masih hidup di dunia, mengingat keadaannya yang sangat aneh. Aku kemudian bertanya kepada kedua anaknya tentang keadaan bapaknya. Anehnya jawaban mereka 99% sama, bahwa ayahnya mendirikan masjid dan sebagai pemberi saham di lembagai hafalan Al-Qur`an. Dia memenuhi semua kebutuhan keluarganya setiap bulan lebih dari cukup, dan dia banyak melaksanakan amal saleh. Sungguh ini merupakan kabar kematian yang menggembirakan bagi yang bersangkutan. Alangkah indahnya, seandainya kita mau melakukan taubat nasuha, dan kembali mengoreksi diri kita, sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)

(Dikutip dari buku KESAKSIAN PEMANDI JENAZAH, hal. 31-33          

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s